Kalimat Terakhir
Lara bangun dari mimpi buruknya. Mimpi buruk sekaligus mimpi terindahnya. Ia tidak tahu, mimpi buruk karena telah menyayanginya terlalu dalam atau mimpi indah karena semesta telah mempertemukannya dengan Bima.
Perasaannya telah menjelma sebagai ketakutan-ketakutan terbesar. Diam menjadi satu-satunya dinding perlindungan yang ia punya. Tembok pertahanannya runtuh, seolah garis pembatas yang ia buat, telah menembus palung jiwa yang berada di dalam tubuhnya.
Perasaan yang semula menjadi warna baru dalam kanvasnya itu kini menjadi abu-abu. Ia meyanyanginya. Sangat. Namun, ia tahu semua hal yang berkaitan tentangnya adalah mimpi buruknya.
Bagi Lara, Bima tampak sebagai bayangan. Bayangan yang menjebak perasaannya untuk memaksakan dirinya masuk ke dalam ruang hampa yang tidak seorang pun bisa keluar dari sana.
Sifatnya yang hampir mirip, pemikirannya yang cenderung sama membuat dirinya seperti berdiri di sebuah cermin besar.
Cermin yang seolah membuat Bima tidak bisa keluar dari kaca tebal di hadapannya itu. Seperti bayangan yang ada di dalam cermin, tetapi tidak bisa ia genggam untuk diajak menemaninya menelusuri pasir pantai di sore hari.
"Ra, kamu kalo mendeskripsikan aku, kamu akan mendeskripsikan sebagai apa?"
"Kira-kira yang cocok apa ya?"
Lara berpikir sejenak.
"Buku fiksi"
"Kenapa harus buku? Karena kamu suka buku?"
"Aku suka kamu Bim"
"Lara ..." kesabaran Bima mulai diuji karena sifat jahil Lara yang mulai menggodanya.
"Hehehe, iya-iya"
"Kenapa harus buku? Kenapa gak yang lain? Kamu tau kan Ra kalau aku nggak suka sama hal berbau bacaan?"
"Tapi kamu suka baca cerpen aku"
"Itu kan karena kamu yang buat"
"Kalau orang lain?"
"Ra kamu pernah liat orang sabar marah nggak karena terlalu bertele-tele ngasih jawaban yang buat aku penasaran?"
"Maaf ... Bim, coba sekarang kamu dengerin aku. Kamu itu buat aku seperti buku fiksi, cerita yang sengaja Tuhan buat agar aku bisa menikmati ceritanya. Ya ... walau kita nggak akan pernah tau ceritanya akan berakhir bahagia atau nggak, setidaknya kamu pernah menjadi bagian dalam ceritaku."
"Kamu tau gak apa yang buat aku gak bisa berhenti kagum sama kamu?"
"Karena aku cantik?"
"Berhenti ge-er!"
"Aku cantik karena aku perempuan, Bim."
Bima hanya mengembuskan napasnya dengan gusar.
"Karena kamu selalu bisa jadi diri kamu sendiri"
Seandainya, seandainya waktu bisa ia berhentikan saat itu juga, mungkin Lara sudah melakukannya. Seandainya semesta punya lebih banyak ruang di bumi, ia akan mengirimkan Bima dan dirinya untuk pergi ke dimensi lain. Dimensi yang mungkin tidak ada seorang pun bisa memisahkan mereka, kecuali takdir.
Jalanan macet sore itu, serta suara knalpot kendaraan bermotor menjadi sebuah penghantar musik sejati untuk sepasang manusia yang katanya sedang kasmaran itu.
Pedagang kaki lima, udara yang penuh dengan asap rokok bapak-bapak pulang kerja, dan juga pengamen jalanan sudah menjadi pemandangan yang khas di kota metropolitan kesayangannya itu.
Mereka berdua berjalan di pinggir trotoar dengan melihat hiruk-pikuk kota Jakarta. Memberhentikan tukang balon, membeli somay karena dagangannya tidak ramai, atau bahkan berdiri di sebuah taman untuk sekadar melihat orang-orang bermain basket.
Iya, sesederhana itu. Hal-hal yang tidak bisa Lara lupakan; semua hal yang ia lakukan dengan Bima, semua kebiasaan yang Bima sering lakukan, atau cuma sekadar bilang, "Ra, kamu di mana? aku jemput, ya?" ia sangat merindukannya.
"Ra, kamu tau nggak kalau aku sudah dinobatkan sebagai manusia paling bahagia di bumi saat ini?"
"Mungkin karena tim bola kesayangan kamu itu semalam menang."
Bima menggelengkan kepalanya.
"Atau ... kamu mendapat nilai sempurna di pelajaran matematika?"
Bima menggelengkan kepalanya lagi.
"Kali ini aku nggak mungkin salah lagi. Kamu pasti menang pertandingan futsal, kan? Wah selamat, ternyata pacar aku jago jadi kapten."
"Salah Ra"
"Yah, terus apa dong?"
"Karena ada kamu"
"Ihh geliiiii!"
"Hahahaha"
"Kenapa sih kamu suka gombal?"
"Kenapa sih kamu lucu banget kalo digombalin?"
"Tau ah, nyebelin!"
Semesta, Lara tahu mengingat Bima tidak akan pernah membuatnya kembali. Pun mencoba membuatnya pergi dari ingatannya juga tidak akan pernah bisa untuk menghapus Bima dari dalam kepalanya.
Sebab, semua hal yang sudah Lara tuliskan; semua hal yang sudah Lara baca, tidak akan pernah cukup untuk membuatnya berhenti untuk tidak menuliskannya. Namun, Bima akan tetap menjadi kalimat terakhir di dalam buku fiksi kesayangannya itu.
Buku fiksi yang ia buat sendiri; buku fiksi yang di dalamnya hanya terdapat dua tokoh yang sama-sama belajar untuk saling mengerti, bahwa beberapa perasaan memang diciptakan tidak untuk bersama.
Kata-katanya keren, sangat menyentuh hati. Butuh beberapa kali membaca utk mengetahui makna penulis menulis ini. Tetap semangat πππ
BalasHapus