Puisi tanpa Nama
Suara deru motor menerobos gendang telinganya, membuat dirinya sadar apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Isi kepalanya terlalu sulit untuk dimengerti orang lain. Bukan, ini bukan kemauannya. Bahkan ia sendiri pun tidak mengerti tentang dirinya. Ia hanya tau kapan Bima makan, kapan Bima tidur, atau bahkan ia tahu semua hal tentang Bima melebihi dirinya. Lara sudah terhanyut dalam bayangannya, dunia yang sengaja ia buat hanya untuk dua tokoh kesayangannya itu telah habis dimakan waktu. Seolah semesta sudah bekerja sama untuk membuat Lara hidup dalam kesepian. Lara turun dari bus kota, ia menelusuri jalan yang becek karena semalam turun hujan lebat yang sengaja Tuhan kirim untuk mengantarkan rindu yang tak sempat untuk ia sampaikan. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya untuk menawarkan sebuah tumpangan gratis, siapa lagi kalau bukan Tito. "Permisi mbak ... ojeknya boleh?" ucapnya sambil memelankan motor vespa putihnya itu. Lara hanya menoleh ke arahnya lalu melanjutkan...