Puisi tanpa Nama
Suara deru motor menerobos gendang telinganya, membuat dirinya sadar apa yang tengah ia pikirkan saat ini. Isi kepalanya terlalu sulit untuk dimengerti orang lain. Bukan, ini bukan kemauannya. Bahkan ia sendiri pun tidak mengerti tentang dirinya. Ia hanya tau kapan Bima makan, kapan Bima tidur, atau bahkan ia tahu semua hal tentang Bima melebihi dirinya. Lara sudah terhanyut dalam bayangannya, dunia yang sengaja ia buat hanya untuk dua tokoh kesayangannya itu telah habis dimakan waktu. Seolah semesta sudah bekerja sama untuk membuat Lara hidup dalam kesepian.
Lara turun dari bus kota, ia menelusuri jalan yang becek karena semalam turun hujan lebat yang sengaja Tuhan kirim untuk mengantarkan rindu yang tak sempat untuk ia sampaikan. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya untuk menawarkan sebuah tumpangan gratis, siapa lagi kalau bukan Tito.
"Permisi mbak ... ojeknya boleh?" ucapnya sambil memelankan motor vespa putihnya itu.
Lara hanya menoleh ke arahnya lalu melanjutkan langkah kakinya yang entah akan membawanya pergi kemana.
"Dih sombong banget cuma dilirik doang," ucap Tito.
"Kenapa si To, lo muncul terus di hadapan gue kalo mood gue lagi kayak gini?"
"Mungkin Tuhan kirim gue buat bikin mood lo tambah ancur kali Ra hehehe"
"Tau ah, gelap! udah ah sana gue lagi gak mau dianter balik"
"Loh siapa juga yang mau nganter lo balik? ge-er banget jadi orang."
"Tadi yang nawarin siapa?"
"Kan cuma nawarin hahaha"
"Bodo."
Tito, Tito, dan Tito. Iya, mungkin itu yang Lara rasakan saat ini. Seseorang yang sangat menyebalkan dan terus menganggunya setiap hari. Ia bingung kenapa harus mengenal orang seperti itu. Ah ... sangat menyebalkan! Lara bahkan tidak tahu mengapa dirinya sangat sabar untuk menghadapi sikapnya. Mungkin 7 tahun mengenalnya itu sudah lebih dari cukup untuk mengetahui karakter sehabatnya itu.
"Yakin nih nggak mau ikut?"
"Nggak, To."
"Awas loh ya di tengah jalan ketemu ondel-ondel terus lo dibawa pulang gimana? Gue nggak mau nolongin."
Mendengar itu Lara langsung bergedik ngeri, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding apalagi hal itu menimpa dirinya? Sudah cukup, kalau menyangkut tentang boneka besar bermuka merah itu, Lara langsung angkat tangan.
"Titoooo ikuttttttt," teriaknya.
Lara benci, Lara benci suasana yang membuat isi kepalanya mengingatkannya tentang suatu moment yang seharusnya sudah ia hilangkan dari pikirannya sejak lama.
"Lo lagi kenapa sih? Tumben diem aja, biasanya juga bawel di perjalanan."
"Gue lagi nggak mood, To." Jawabnya pelan.
"PMS ya lo, sok-sok gak mood gitu"
"Lo bisa diem nggak? Dari tadi nanya mulu!"
"Lo bisa ngomong nggak? Dari tadi diem mulu!"
"Titooooooo"
Mendengar itu, Tito pun mempercepat laju motornya.
Akhirnya motor vespa putih itu berhenti tepat di depan sebuah kedai kopi. Tidak terlalu besar pun tidak terlalu kecil, banyak orang yang mampir ke sana karena kopinya yang sudah melegenda di daerahnya itu.
"Ra lo mau turun apa di situ aja?"
"Loh kok ke sini dulu sih?"
"Gue pusing, mau ngopi dulu. Lo mau tetep diem di situ nungguin motor gue?"
Akhirnya Lara pun turun dan membuntuti Tito yang sedang memesan kopi.
"Kopi hitamnya satu ya Pak, gulanya dikit aja," ucap Tito sambil mengeluarkan sepuntung rokok.
Lara yang sedang duduk di bangku pun akhirnya berdiri mencolek Tito.
"To, cepetan gue gak suka ada di sini."
"Yaudah, lo duduk diem aja yang manis di situ. Gue mau ngerokok dulu sebentar, oke?"
Kepulan asap mengepul di udara, hal yang paling Lara benci. Iya, melihat Tito merokok. Padahal ia sudah berulang kali mengingatkan sehabatnya itu untuk berhenti merokok, tetapi kata Tito, laki-laki tanpa rokok itu ibarat ruang tanpa suara, hampa.
Setelah selesai minum kopi, Tito dan Lara pun segera pulang. Sebab, matahari sudah hilang dari peradaban. Malam-malam penghantar kesunyian pun akan segera dimulai, dan Lara benci itu.
“Yuk”, ucap Tito sambil menyalakan motor kesayangannya itu.
“Sekarang?”
“Ya menurut lo? mau tahun depan?”
“Ya gak gitu juga kali To, maksud gue, gue gak mau pulang ke rumah dulu”
“Ya terus lo mau ke mana? mau tidur di kolong jembatan gitu?”
“Ishhhhh, lo bisa serius dikit gak sih?”
“Lo tuh aneh, Ra. Mau seberapa jauh lo lari dari masalah, itu gak akan buat masalah lo selesai. Masalah itu dihadapi, bukan dihindari.”
Lara diam, isi kepalanya sudah terlalu ramai untuk mencerna kata-kata Tito barusan. Iya, dirinya terlalu pengecut untuk bertahan di satu titik sendirian. Ia ingin berhenti, sangat. Namun, keadaan memaksanya untuk terus berjalan di tempat.
Tanpa pikir panjang, Tito pun segera mengantar Lara ke rumahnya. Rumah sederhana yang selama ini menjadi penjara untuknya. Penjara yang ia buat sendiri, penjara bawah tanah yang selalu pengap, pengap oleh isi kepala yang semakin hari, semakin berisik.
“Lo mau mampir dulu nggak?”
“Tumben gue disuruh mampir?”
“Ya buat basa-basi aja sih hahaha”
“Nahkan gitu cantik kalo ketawa”
“Makasih emang gue cantik.”
“Idih ge-er! Udah ya gue balik dulu”
“Hati-hati To, makasih”
Lara masuk ke dalam rumah, ia melihat sebuah kotak besar di mejanya. Lara pun membuka kotak itu, dilihatnya satu per satu isi dari kotak tersebut. Kepingan-kepingan kenangan mulai keluar dari kepalanya. Mengingatkan ia kepada laki-laki yang tidak akan pernah hilang dari ingatannya. Lara pun menemukan sebuah kertas berisi puisi-puisi sederhana yang Bima buatkan untuknya. Iya, puisi itu masih ia simpan rapi di tempatnya.
Komentar
Posting Komentar