Jeda dalam Kata

Rumpang, seperti sesuatu yang hilang namun tetap hidup. Tumbuh seperti senyawa lainnya dan ikut bertambah setiap harinya. Bagian kecil yang hilang terus dicari, tetapi tidak ditemukan. Meronta-ronta mencari keberadaannya yang layak, tetapi tertindas kerena terhempas. 

Menua, melayu, mengikis perasaan yang kian hari, kian pasang. Bait-bait sastra ini terus menari-nari di dalam kepalanya, kemudian terngiang dalam pola pikir yang sebenarnya tidak ada ujungnya. 

Kita berada di sebuah aksara yang terjebak dalam lautan puisi. Raganya yang utuh, tetapi tidak untuk jiwanya yang rapuh. Perihal waktu yang membuat nuansa baru menjadi kelabu. 

Bergemuruh, berdesir lewat sela-sela dada, terasa kelu, tetapi hanya bisu. Tubuhnya mematung karena yang terlihat hanya awan mendung. 

Hujan mengguyur bumi sore itu, ditambah tetesan air yang menetes dari genting atap rumah membuat suasananya terasa amat sendu. 

Dalih-dalih rasa menyelinap dalam sebuah ikatan yang tak semestinya hadir, namun ada karena takdir. Semesta mengutuk perasaannya, membuat dirinya terkurung dalam ruang kosong yang di dalamnya terdapat fatamorgana.  

Bima dan Lara, cerita yang selesai tanpa pernah dimulai. Dekat tanpa pernah erat. Beriring, tetapi tak seiring. Seperti ada sebuah tembok besar sebagai pembatas untuk keduanya. Ruang kedap suara telah membisukan perasaannya. 

Ia tahu, menyayanginya adalah sebuah kesalahan besar. Sebab, menyayanginya tidak akan pernah cukup untuk memilikinya.  

"Bim, kalau aku tenggelam kamu akan menolongku, nggak?"

"Nggak," Bima menggelengkan kepalanya.

"Kok kamu gitu, sih?"

"Ya memang aku harus apa, Ra?"

"Ya ... menolongkulah!"

"Ra, kamu tahu nggak kenapa aku tidak ingin menolongmu?"

"Kenapa?"

"Karena aku nggak akan membiarkan kamu untuk tenggelam."

"Tadi katanya nggak mau nolongin aku?"

"Bukan gitu ... kalau aku menolongmu, itu artinya kamu sudah tenggelam dong?"

Lara tersenyum. Bima memang seringkali membuat Lara merasa bahwa dirinya adalah satu-satunya manusia paling bahagia di bumi. Bima telah membuat semesta Lara yang tadinya hanya dipenuhi satu warna, kini berubah menjadi warna-warna baru. Warna-warna yang siap untuk melukiskan di kanvas hitam miliknya.

"Ra, jangan pernah menghilang dari bumi, ya?"

"Kenapa memangnya?"

"Bumi akan menyesal karena kehilangan makhluk seperti kamu"

"Ih gombal! Bim, ikut aku ke saturnus, yuk!"

"Kenapa harus ke saturnus? Karena saturnus punya cincin?"

"Karena saturnus jauh dari bumi"

"Kalau gitu ... mending kita ke pluto aja"

"Nggak mau, banyak aliennya"

"Hahahahaha" 

Melihat Bima tertawa lepas seperti itu mungkin adalah sebuah hobi baru untuk Lara. Sorot mata yang begitu tulus, parfum coklat kesukaannya, serta rambut yang sengaja Bima panjangkan karena Lara yang menyuruhnya adalah pemandangan yang sangat ia rindukan hingga saat ini. 

Seandainya mesin waktu tercipta, mungkin Lara meminta agar semesta tidak mempertemukannya dengan laki-laki yang membuat dirinya tidak bisa melanjutkan ceritanya yang bahkan belum sempat dimulai itu.

"Bim, pulang yuk, udah sore"

"Tanpa kamu suruh aku sudah pulang, Ra."

"Pulang?"

Lara masih terus berpikir, sikap Bima yang terlalu misterius itu selalu membuat isi kepalanya bertanya-tanya dan menebak apa yang sekarang laki-laki itu ingin lakukan terhadap dirinya.

"Aku nggak perlu pulang kemana-mana karena rumahku sudah berada di depan mataku."


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer