Hujan di Kala Senja

 

Hujan di Kala Senja

“Hai,” sapanya. Aku tersenyum getir lalu ia melihatku dan aku melihatnya. Asing. Sudah lama kita tidak saling menyapa. “Dulu di tempat ini kita sering menghabiskan waktu, ya?” katanya. Lalu aku mendadak diam seolah mengingat kejadian itu. Aku menyunggingkan senyum tipis, “iya.”

Aku membuka mata perlahan seolah ini hanya mimpi, tapi ternyata ini bukan mimpi. Sebaik itukah semesta kepadaku? Kalau kau menanyakan perasaanku pada saat itu bahagia atau tidak, sudah pasti jawabannya iya. Kutatap mata itu, mata yang dulu pernah menjadi tatapan terhangat. Kuperhatikan setiap sudut senyumnya dan ternyata masih sama pada saat kali pertama kita bertemu. Apakah masih ada harapan? Sepertinya tidak, ia terlalu mustahil untuk kuraih kembali.

Di sini kita berdua menikmati indahnya sinar jingga yang terpapar nyata di langit senja. Ditemani rerumputan hijau di sekililingnya. Ditambah suara angin semilir yang meniup helaian rambutku. Perlahan ia menoleh lalu menatapku dan mata kami bertemu. Dari sudut matanya ia seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Ah ... atau itu hanya perasaanku saja?

“Maaf,” katanya lirih. Aku menatapnya bingung.

 “Maaf untuk?” kataku.

“Pergi,” ia menunduk lalu mengaitkan jari-jemariku dengan jarinya dalam satu genggaman erat.

Aku diam, debaran jantungku berubah menjadi tidak karuan. Kutangkap sorot matanya, ada sebuah kejujuran yang tergambarkan di sana, sebuah perasaan yang amat sangat tulus. Namun, bukan itu yang aku mau, bukan kata-kata itu yang ingin kudengar dari bibirnya.

“Maaf karena selama ini aku udah pergi tanpa ninggalin satu alasan pun ke kamu”

Aku hanya menatapnya dengan menyunggingkan senyum tipis, lalu tanpa sadar bulir-bulir air sudah membasahi pipiku. Aku mengangguk ragu, tetapi ia meyakinkanku seolah ia tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Meski kini ada seribu pertanyaan di otakku "apa yang ia lakukan selama ini ketika ia pergi?"

“Makasih,” katanya sambil menghapus air mata yang sedari tadi menetes di pipiku.

“Kamu kemana aja selama ini?” kataku dengan lembut. Mungkin itu adalah salah satu cara untuk meredam emosiku selama enam bulan belakangan ini.

“Kamu nanti akan tau, maaf aku gak bisa kasih tau sekarang” 

Lagi-lagi jawaban itu, aku benci mendengarnya setiap kali aku bertanya pasti dia menjawab itu. Apa tidak ada jawaban lain yang membuat hatiku merasa lebih baik?

“Yuk, pulang udah malam. Nanti ibumu khawatir,” katanya. 

“Tapi aku masih ingin berlama-lama di sini,” ucapku sedikit memaksa.

“Jani, sebentar lagi malam” aku hanya menunduk lalu ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut.

“Kamu mau gak bikin aku senang?”

“Apa?”

“Ayo kita pulang sekarang,” tanpa pikir panjang ia menarik pergelangan tanganku, membawaku pulang ke rumah. Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalku. Padahal rumah yang selama ini aku cari kini sudah berada di depan mataku. Aku hanya mengikuti arah genggaman itu dan tanpa sadar seulas senyum terhias di sudut bibirku. Dia adalah Fajar, Fajar yang setiap perlakuan sederhananya mampu menghangatkan hatiku.

Hari ini adalah hari Fajar berulang tahun yang ke-17 tahun. Kuingat memori lalu ketika ia mengungkapkan perasaannya padaku hari ini. Katanya, ia ingin hari yang spesial mempunyai makna yang spesial juga. Aku juga ingat permintaan aneh dia pada saat di rumah pohon itu.

“Jani apa kamu tidak ingin meminta permohonan di hari ulang tahunku?”

“Kan kamu yang berulang tahun kenapa harus aku yang dimintai permohonan?”

“Ayolah ... kan sekarang kamu sudah memiliki arti penting di hidupku.Jadi, kamu harus meminta permohonan juga sepertiku”

Aku tersenyum, ia pun juga. Kita sekarang sama-sama membuat permohonan pada secarik kertas. Aku bingung ingin menulis apa, lalu pada akhirnya aku memutuskan untuk melihat dia, kupandangi satu per satu gerak-geriknya, yang sedari tadi sibuk dengan kertas dan penanya. Dia menoleh ke arahku.

“Kamu kenapa dari tadi hanya melihatku? Sudah selesai menulis permohonannya?” tanyanya.

Dan aku hanya menggelengkan kepala dan menunjukkan sederetan gigi putihku.

“Hehe belum,” jawabku.

Dia langsung menarik kertasnya dan memunggungiku.

“Jangan menyontek, cepat tulis permohonanmu!” ucapnya dengan suara yang ditegas-tegaskan.

“Huh dasar menyebalkan,” umpatku.

Akhirnya aku pun memandangi langit yang sedari tadi tampak mendung dan mungkin sedikit lagi hujan akan turun dan benar saja, kini butir-butir hujan sudah membasahi bumi. Tanpa sadar aku mengingat satu keinginanku yang ingin sekali aku wujudkan, tapi apa benar jika aku menuliskan di kertas ini semua akan terkabul? Tak perlu pikir panjang aku pun segera menggoreskan pena pada secarik kertas yang sedari tadi masih belum ada tulisan sama sekali.

“SELESAI” teriakku dengan bangga.

“Udah?” tanyanya.

“Udah dong”

Kini dia mengambil kertasku dan memasukkannya ke dalam botol yang di dalamnya sudah ada kertas miliknya

“Nah satu tahun lagi kita baca permohonan kita sama-sama, siapa yang permohonannya sudah terwujud duluan boleh minta satu permintaan dan yang belum terwujud dapat hukuman. Gimana? setuju gak?”

“Apa hukumannya?” tanyaku.

“Traktir coklat, permen, dan lolipop!”

“SETUJU!” ucapku dengan perasaan gembira.

Dan sekarang aku tersadar dari lamunanku, kupandangi jam tanganku dan ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Kini aku hanya berdiam diri di tempat ini. Ternyata menunggu itu melelahkan ya? Sudah hampir satu jam Fajar tidak datang-datang. Padahal ia bilang jam tiga akan bertemu di sini tetapi kenapa sampai sekarang ia belum datang juga? Aku mencoba menghubungi handphone-nya tetapi tidak ada tanda-tanda panggilan satu pun. Perasaanku tidak enak, dadaku tiba-tiba terasa sesak. Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Tak lama kemudian handphone-ku bergetar, kukira itu panggilan dari Fajar, tetapi dugaanku salah. Ternyata hanya ada notifikasi dari nomor yang sama sekali tidak aku kenal.

Senjani ya? Ini tante nak, sekarang Fajar tidak bisa bertemu kamu karena semalam penyakit dia kambuh. Kalau kamu mau tau keadaan dia sekarang datang ke Rumah Sakit Cinta Kasih. Tante tunggu.

Penyakit? Jadi selama ini Fajar sakit? Kenapa dia tidak memberitahuku? Dengan cepat aku mengayuh sepedaku, menerobos hujan yang sedari tadi terus mengguyur tubuhku. Dingin? Aku tidak perduli selama aku masih bisa melihat Fajar akan kulakukan berbagai cara untuk bisa melihatnya lagi dan berada di sampingnya.

Jantungku berdegup kencang saat memasuki kamar bertuliskan 306. Aku membuka perlahan pintunya, kulihat ada seseorang terbaring lemah dengan selang infus dan juga mesin jantung. Matanya tertutup, nafasnya begitu damai dan tenang. Ingin kulontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiranku sedari tadi. Namun, aku hanya diam. Aku tidak tega untuk membangunkannya. Kuambil bangku kosong dan kutarik perlahan di samping ranjangnya, lalu aku genggam tangannya seolah ia tidak akan kulepas lagi. Air mata ini sudah tak kuasa kubendung lagi dan kini perlahan jatuh membasahi pipi mungilku. Dengan sekuat tenaga aku mencoba menahan isak tangisku agar ia tidak mendengarnya, tetapi gagal. Dia sudah mengusap puncak kepalaku dengan lembut ketika kutundukkan kepalaku pada pergelangan tangannya.

“Maaf,” aku menoleh ke arahnya.

“Maafin aku Senjani,” aku diam seolah tidak mendengar satu kata pun yang terlontar dari bibirnya.

“Hei, sekarang lihat mata aku,” dia menyentuh daguku dan mengarahkannya ke wajahnnya.

“Sekarang kamu sudah tau kan alasan aku pergi beberapa bulan lalu?” ucapnya dengan rasa bersalah.

Aku semakin terisak pada tangisku, sepertinya semesta tau betapa hancurnya hatiku ketika mendengar penjelasan yang selama ini aku pertanyakan. Jujur, ini sangat tidak adil. Kenapa harus penjelasan seperti itu yang aku dengar?

“Kenapa kamu gak bilang dari kemarin Fajar, apa kamu senang melihatku khawatir seperti ini?” tangisku pecah kali ini, dengan menuangkan semua emosi yang selama ini berada di dalam kepalaku, rasanya lega.

“Justru itu aku gak bilang karena aku gak mau bikin kamu khawatir Jani” 

“Terserah apa pun itu, sekarang aku mau tau apa penyakitmu?”

“Aku terkena Leukemia” jawabnya lirih.

Aku diam seolah detik berhenti di saat ini juga dan hanya ada suara mesin jantung yang berbunyi. Kalian pasti tau seberapa terpukulnya aku, seperti ada tombak besar yang menohokku dari belakang.

“Enam bulan kemarin aku koma,” ucapnya berusaha menjelaskan.

“Aku takut kamu khawatir, aku gak pengen liat kamu cemas Jani,” dan sampai saat ini aku masih diam.

“Mungkin sekarang waktu aku udah gak banyak, maaf sudah membuat air matamu terjatuh hanya untuk menangisi pria sepertiku. Tapi Jani, ada satu hal yang harus kamu dengar” dia mempererat genggamannya.

“Apa?”

“Aku ingin memelukmu untuk terakhir kali”

Akhirnya aku membungkukkan tubuhku dan memeluknya. Hangat, perasaanku sangat hangat pada saat itu, seolah aku ingin memberhentikkan waktu pada saat itu juga. Semua aku tumpahkan, perasaanku bercampur aduk menjadi satu antara bahagia bercampur dengan takut kehilangan. Lalu dadaku terasa sangat sesak, tangisku semakin terisak. Tuhan kenapa secepat ini? Kucoba berulang kali mendengar detak jantungnya, tapi tidak ada suara degup jantung sama sekali. Aku berusaha meyakinkan sekali lagi, tetapi hanya ada satu garis lurus yang terlihat di mesin itu.

Aku memanggil dokter dan suster dengan perasaan terpukul, lalu semua pun ikut panik. Tante Vani, Kak Aldo, dan Om Hendri juga tak kalah panik pada saat itu. Semua hanya menumpahkan air matanya dan melihat seorang anak laki-laki yang terbaring tak berdaya di sana. Sungguh, itu adalah hari yang paling aku benci sampai sekarang. Setelah Fajar dimakamkan, aku memutuskan pergi ke rumah pohon untuk memenuhi janji kami satu tahun lalu. Perlahan kuraih botol itu, lalu aku membukanya satu per satu surat yang ada di dalamnya.

Senjani, kalau kamu sudah membaca suratku ini, itu tandanya kamu harus tersenyum, ya? karena apa? Karena sekarang aku sudah tenang di sana. Aku gak mau lihat kamu sedih, maaf karena aku tidak bercerita sedikit pun tentang penyakitku. Sudah 2 tahun aku mengidap penyakit ini, aku sengaja menyembunyikannya. Aku sayang kamu Jani, aku gak mau lihat kamu sedih. Aku enggak tau lagi harus berterima kasih seperti apa pada semesta karena sudah menurunkanmu ke bumi. Aku senang bisa mengenalmu Jani, aku juga senang bisa menemanimu melihat senja setiap pulang sekolah. Kamu tau ketika kamu melihat senja, langit sedang cemburu. Kamu tahu nggak kenapa langit cemburu? Karena senjanya sudah ada di sampingku. Jani, aku tau impianmu untuk menjadi seorang penulis itu sudah lama. Tetap menulis, ya? Jangan dengarkan orang lain yang tidak menyukai tulisanmu. Menulislah karena kamu memang suka menulis, bukan untuk membuat mereka menyukai tulisanmu. Tetap semangat ya, aku tau suatu hari nanti kamu akan menjadi penulis hebat. Jangan lupa jadikan aku sebagai tokoh utamamu ya.

Air mataku kembali terjatuh ketika aku membaca isi permohonan Fajar dan sekarang apa yang ia katakan benar, bahwa aku menjadi seorang penulis terkenal. Kini, aku kembali ke rumah pohon itu kepergiannya sudah memasuki tahun kedua. Lalu kubuka perlahan laptopku dan berusaha mengetikkan sesuatu di layar. Ditemani hujan yang mengguyur rumah pohon itu, tempat kami menghabiskan waktu berdua untuk melihat senja.

Di sini, akan kuhabiskan waktu untuk mengenang sosok pria yang bernama Fajar dalam ingatanku. Aku coba menuangkan perasaanku ke dalam sebuah ketikkan. Akan kuingat kembali memori-memoriku tentangnya dan memperlihatkan kepada para pembaca. Seperti permintaannya, akan aku jadikan dia sebagai tokoh utama dalam cerita singkatku.

Komentar

Postingan Populer